blog-img-10

Keterangan : HTTS 2022: Seberapa Besar Populasi Perokok di Indonesia?

Posted by : Administrator

HTTS 2022: Seberapa Besar Populasi Perokok di Indonesia?

Tak disangka, perokok di Indonesia sangat banyak sekali. Hampir disetiap sudut dengan mudah ditemukan orang yang merokok dengan seenaknya, tanpa peduli dengan orang-orang disekitarnya. Tiup asap sana, tiup aasap sini. Perlu diketahui, Indonesia menempati posisi ketiga setelah India dan China dengan jumlah perokok terbanyak juara tiga dalam jumlah perokok didunia setelah India dan China.

Berdasarkan Riskesdas 2018, perokok laki-laki usia di atas 15 tahun sejumlah 62,9% dan  ini merupakan prevalensi perokok laki-laki tertinggi di dunia! Selain itu, yag mengejutkan lagi adalah terjadi peningkatan perokok anak dibawah 18 tahun dari 7,2% pada tahun 2013, meningkat menjadi 9,2% pada tahun 2018. Kalau bisa dikatakan, Indonesia memang top dalam urusan konsumsi rokok. Bayangkan, predikat “juara” perokok 15 tahun dipegang oleh Indonesia. Sangat miris, karena indonesia masih menjadi negara berkembang, dimana tingkat perekonomiannya masih di angka rata-rata.

Kesannya seperti ini sobat sehat, jika dihitung-hitung, pengeluaran mereka untuk rokok saja jika digabung bisa untuk hal yang lain lho! Pengeluaran rokoknya bisa saja untuk membeli barang yang lebih berguna.

“Karena mereka tidak berpikir kesitu, mas. Rp 5.000 atau Rp 10.000 nggak masalah bagi mereka untuk sekedar merokk. Itu kalau masih 15 tahun tadi ya, kalau sudah kerja, bisa saja mereka meningkatkan konsumsi rokoknya dan mengganti rokoknya dengan harga yang lebih mahal, alih-alih meningkatkan rasa,” ucap dr. Rita Anggraini.

“Kembali lagi, faktor yang menyebabkan anak-anak dan remaja memiliki kebiasaan merokok adalah iklan baik visual atau audiovisual yang diputar di jam 22.00 WIB sekalipun. Kemudian iklan terselubung mengatasnamakan kegiatan apapun, seperti musik, CSR, sosial. Ini bisa menarik anak-anak dan remaja untuk mencoba rokok,” lanjut dr. Rita.

 

Apakah Dampak Rokok Yang Dirasakan Berbeda di Tiap Usia?

Bisa dikatakan, anak-anak yang merokok (perokok aktif anak) lebih cenderung beresiko terkena penyakit, karena daya tahan tubuh yang belum sempurna seperti remaja atau orang dewasa. Tapi kembali lagi, mau siapapun perokok aktif, tentu dampaknya berbahaya.

Sebenarnya bahaya rokok sudah dicantum dibungkus rokok yang disertai dengan gambar penyakit yang sangat menyeramkan. Tapi sayangnya, peringatan visual ini sering tidak dipedulikan oleh perokok. Misalnya, nikotin. Ini adalah zat yang menjadi primadona industri rokok karena zat ini menyebabkan seorang perokok menjadi kecanduan dan akhirnya tidak bisa lepas dari ketergantungan akan rokok. Mau seberapa pun jumlah nikotin yang tertera, konsumennya tidak peduli.

Kemudian Tar yang merupakan zat di dalam rokok yang dapat memicu terjadinya berbagai jenis kanker dan penyakit paru lainnya.  Tar merupakan zat yang memiliki sifat karsinogenik, yang memicu pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh. Selain itu ada Karbon Monoksida (CO). Apabila seseorang menghisap rokok, maka karbon monoksida (CO) akan ikut masuk kedalam paru dan masuk ke aliran darah menggantikan posisi oksigen yang mengakibatkan terjadinya gangguan kekurangan oksigen disepanjang aliran darah yang mengakibatkan terjadinya gangguan di seluruh tubuh.

Karbon Monoksida (CO) dapat menyebabkan terjadinya gumpalan darah yang dapat menyebabkan terjadinya sumbatan pembuluh darah. Bila sumbatan terjadi di pembuluh darah otak dapat menyebabkan terjadinya serangan stroke, dan jika sumbatan pembuluh darah terjadi di jantung menyebabkan serangan jantung. (bersambung)

 

 

 

Kembali

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

Jl. Kesehatan No 10
Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat,
DKI Jakarta 10160

    Kontak

  • +62213451338
    (Senin - Kamis 08:00 - 16.00 WIB)
    (Jum'at 08:00 - 16.30)

    +62 822-1388-8006 (Hotline)
    (Senin - Kamis 08:00 - 16.00 WIB)
    (Jum'at 08:00 - 16.30)

    dinkes@jakarta.go.id

Media Sosial

   Sitemap