Pemerintah Hadirkan Skrining TB dengan Rontgen Dada dan Cek Kesehatan Gratis pada Pesantren dan Pemukiman Padat Penduduk
Jakarta, 13 Agustus 2026 – Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Agama yang berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini DInas Kesehatan terus memperkuat upaya penemuan kasus tuberkulosis (TBC) secara aktif dengan memperluas akses skrining ke lingkungan yang memiliki risiko penularan lebih tinggi, termasuk pondok pesantren dan kawasan permukiman padat penduduk. Salah satunya melalui kegiatan Kick Off Skrining TB dengan Rontgen Dada dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Khairul Ummah, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8). Pelaksanaan skrining ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan rentan dan padat penduduk. Melalui skrining TB dan CKG, masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan untuk mendeteksi TB sekaligus mengetahui faktor risiko maupun masalah kesehatan lainnya sehingga dapat ditemukan lebih awal dan segera ditindaklanjuti.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Amien Suyitno., perwakilan Kantor Staf Presiden (KSP), perwakilan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Murniasi Hutapea, serta sejumlah pejabat tinggi madya dan pratama di lingkungan kementerian dan lembaga.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, skrining TB akan terus diperluas, termasuk ke lingkungan pondok pesantren dan permukiman padat penduduk. Kondisi lingkungan dengan kepadatan hunian dan aktivitas bersama yang tinggi dapat meningkatkan risiko penularan TB.
“Ada 42.000 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 7 juta. Karena pesantren itu padat tempat tinggalnya dan bersama-sama, insiden TB menjadi lebih besar,” ujarnya.
Menkes Budi juga menambahkan bahwa teknologi rontgen saat ini sudah semakin maju. Menurutnya, Rontgen adalah cara yang paling bagus untuk melakukan skrining TB terlebih saat ini sudah dilengkapi dengan dukungan Artificial Intelligence (AI) memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara lebih cepat dan mudah dibawa.
“Sekarang kita akan jalan dari pesantren ke pesantren untuk bisa mencari penderita TB. Karena kalau diobati pasti sembuh dan tidak menular, jadi teman-teman tidak usah takut,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyampaikan, kegiatan Skrining TB dan CKG di Pondok Pesantren Khairul Ummah ini menjadi momentum untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus memperkuat deteksi dini berbagai masalah kesehatan. Ia menjelaskan, melalui CKG yang diberikan secara gratis, masyarakat dapat mengenali kondisi kesehatannya dan mengetahui lebih dini apabila terdapat masalah kesehatan, seperti anemia, hipertensi, diabetes, maupun penyakit menular seperti TB.
“Apabila terindikasi menderita TB, bukan menjadi sebuah masalah yang besar. Penyakit TB adalah penyakit biasa yang dapat disembuhkan, dapat diobati, dan obatnya tersedia secara gratis. Penting sekali bagi kita semua untuk menemukan kasus ini dengan cepat sehingga rantai penularan TB dapat segera diputus,” tutur Ani.
Kadis Kesehatan Ani juga mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan serta memberikan dukungan kepada orang yang sedang menjalani pengobatan TB.
“Jangan takut untuk periksa. Dampingi penderita TB jangan berikan stigma, jangan dikucilkan. Mulai sekarang mari kita manfaatkan cek kesehatan gratis yang disiapkan oleh pemerintah,” pungkasnya. [AA]
