Tingkatkan Kualitas Penanganan Gizi Balita, Dinkes DKI Jakarta Gelar Workshop Peningkatan Koordinasi dan Penatalaksanaan Balita Bermasalah Gizi
Jakarta, 6 Februari 2026 – Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menggelar Workshop Peningkatan Koordinasi dan Penatalaksanaan Balita Bermasalah Gizi sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas penanganan balita dengan masalah gizi, baik gizi kurang, gizi buruk, maupun risiko stunting. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 2 Gedung Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat, yang dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Octoviana Carolina Sitorus, plt Direktur SEAMEO RECFON Herqutanto, Para Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta para peserta workshop dari RUSD dan Puskesmas.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa workshop ini memiliki makna yang sangat strategis mengingat permasalahan gizi pada balita masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan.
“Permasalahan gizi balita adalah pekerjaan rumah bersama yang harus dikerjakan secara menyeluruh. Tidak hanya perbaikan gizinya, tetapi juga edukasi, pemahaman keluarga, kondisi ekonomi, sanitasi lingkungan, hingga kondisi rumah tinggal. Semuanya saling berkaitan dan harus ditangani secara terpadu,” ujar Ani, Jumat (6/2).
Ia menekankan pentingnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) secara rutin melalui forum diskusi lintas sektor, termasuk melibatkan unsur kesehatan, pemangku wilayah, serta SKPD terkait.
“Kita perlu monev yang rutin, kemudian dievaluasi, didiskusikan melalui FGD, lalu ditindaklanjuti melalui workshop. Rencana aksi ini tidak boleh dibiarkan berjalan begitu saja sampai akhir tahun. Harus dievaluasi secara berkala, misalnya setiap tiga bulan, agar kita tahu mana yang efektif dan mana yang perlu diperbaiki,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut pula, Ani juga menekankan pentingnya implementasi Posyandu Ramah Anak sebagai garda terdepan dalam pemantauan tumbuh kembang balita.
“Posyandu adalah wadah pertama kita untuk melakukan monitoring balita. Tahun ini posyandu harus benar-benar bertransformasi menjadi posyandu yang ramah anak, menyenangkan, dan membuat masyarakat senang datang” jelasnya.
Ani juga turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada SEAMEO RECFON atas kerja sama, dukungan keilmuan, serta komitmen dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia dan sistem pelayanan gizi di Provinsi DKI Jakarta.
“Kepada seluruh peserta workshop, kami berharap ilmu, pengalaman, dan praktik baik yang telah diperoleh selama kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, namun dapat diimplementasikan secara nyata dalam pelayanan gizi di wilayah kerja masing-masing, khususnya dalam upaya deteksi dini, tata laksana tepat, serta pendampingan berkelanjutan bagi balita bermasalah gizi” tutupnya.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat, Octoviana, menyampaikan ringkasan pelaksanaan workshop yang telah berlangsung sejak awal pekan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini menghasilkan rencana aksi di masing-masing kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya penanganan stunting dan masalah gizi lainnya yang didampingi oleh SEAMEO RECFON. Octoviana menambahkan bahwa rencana aksi yang disusun bukan bersifat jangka pendek, melainkan akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026 secara terukur dan berkelanjutan, serta terus ditingkatkan melalui proses monitoring dan evaluasi di setiap kabupaten/kota.
“Kami berharap penanganan balita ke depan tidak hanya berfokus pada stunting, tetapi juga seluruh bentuk malnutrisi. Dampaknya diharapkan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat DKI Jakarta dan menjadi pondasi penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur SEAMEO RECFON, Herqutanto, berpesan kepada seluruh peserta workshop agar hasil kegiatan ini dapat diinternalisasi dan diimplementasikan secara nyata. Ia menekankan bahwa internalisasi materi menjadi hal yang sangat penting agar pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bagian dari tugas dan fungsi masing-masing, serta menjadi fondasi dalam setiap pelayanan tata laksana gizi. Selain itu, Herqutanto berharap rencana tindak lanjut (RTL) yang telah disusun oleh masing-masing wilayah dapat direalisasikan dan diimplementasikan secara bersama-sama. Ia menegaskan komitmen SEAMEO RECFON untuk terus mendukung kolaborasi lintas sektor dengan tujuan memajukan kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya kesehatan anak-anak.
“Kami siap melakukan monitoring bersama, mendampingi, dan membantu memastikan setiap hambatan yang dihadapi dapat diidentifikasi dan diselesaikan. Dengan bergandengan tangan dan bersinergi melampaui batas ego sektoral, upaya penurunan stunting diyakini dapat sekaligus menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan lainnya,” ungkapnya. [AA]
