Dinkes DKI Jakarta Perluas Implementasi Wolbachia untuk Tekan Kasus DBD di Cengkareng
Jakarta, 21 Agustus 2026 – Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memperluas implementasi teknologi Wolbachia sebagai salah satu metode dalam upaya penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD). Setelah selesai diterapkan di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, pada 2025, program tersebut kini mulai diimplementasikan di Kecamatan Cengkareng. Peluncuran implementasi Wolbachia di Kecamatan Cengkareng dilaksanakan di RPTRA Utama, Kelurahan Cengkareng Barat, pada Jumat (21/8). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Barat Imron Sjahrin, Kepala Suku Dinas (Kasudin) Kesehatan Jakarta Barat Sahruna, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni, Camat Cengkareng Suhardin, para lurah di Kecamatan Cengkareng, jajaran puskesmas, kader Jumantik, RT/RW, PKK, Dasawisma, serta unsur masyarakat.
Kasudin Kesehatan Jakarta Barat Sahruna menyampaikan Kecamatan Cengkareng dipilih sebagai wilayah implementasi karena menjadi salah satu wilayah dengan kasus DBD yang cukup tinggi di Jakarta Barat. Hingga 20 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.591 kasus DBD di Jakarta Barat dengan incident rate (IR) 62,3 per 100.000 penduduk. Angka tersebut menempatkan Jakarta Barat sebagai wilayah dengan kasus DBD tertinggi ketiga di Provinsi DKI Jakarta. Ia menambahkan, dari jumlah tersebut, Kecamatan Cengkareng mencatat kasus DBD tertinggi di Jakarta Barat, yaitu sebanyak 563 kasus dengan IR 96,7 per 100.000 penduduk. Sementara itu, Kelurahan Kapuk menjadi kelurahan dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 234 kasus dengan IR 133,6 per 100.000 penduduk.
“Ini cukup tinggi, khususnya di Kecamatan Cengkareng. Oleh karena itu kami pilih Kecamatan Cengkareng menjadi implementasi kedua program Wolbachia di Jakarta Barat, setelah Kecamatan Kembangan,” ujar Sahruna.
Sahruna juga mengatakan implementasi Wolbachia di Kecamatan Kembangan sebelumnya telah memberikan dampak positif terhadap pengendalian kasus DBD. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran dalam penerapan program di Kecamatan Cengkareng.
“Belajar dari Kecamatan Kembangan itu butuh waktu dua tahun untuk sampai menjadi bagus hasilnya. Kami juga berharap jangan sampai dua tahun, mudah-mudahan setahun sudah bisa terhasil,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni menegaskan bahwa implementasi teknologi Wolbachia merupakan salah satu metode pelengkap dalam pencegahan DBD. Penerapannya tetap harus berjalan beriringan dengan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
“Ini salah satu upaya untuk pencegahan DBD di samping upaya-upaya lain yang tidak boleh dilupakan, yaitu PSN. Jadi PSN harus tetap secara rutin dan konsisten dilaksanakan,” tegas Sri Puji.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Barat Imron Sjahrin mengajak seluruh unsur pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mendukung pelaksanaan program tersebut agar berjalan optimal.
“Ini semua perlu dukungan keterlibatan semua unsur, pemerintah, camat, lurah, tokoh masyarakat dan pihak swasta, sehingga nantinya implementasi program Wolbachia di Kecamatan Cengkareng bisa berhasil seperti yang kita pernah lakukan di Kecamatan Kembangan,” ucapnya.
Implementasi Wolbachia di Kecamatan Cengkareng telah melalui serangkaian tahapan persiapan sejak 2025. Tahapan tersebut diawali dengan survei penerimaan masyarakat pada November 2025 hingga Januari 2026, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi program pada November hingga Desember 2025. Selanjutnya, pendataan calon Orang Tua Asuh (OTA) telur nyamuk ber-Wolbachia dilakukan sejak Desember 2025 hingga Juni 2026. Selama proses persiapan, koordinasi secara intensif juga dilakukan bersama para pemangku kepentingan di wilayah Kecamatan Cengkareng, mulai dari camat, lurah, RT/RW, instansi pemerintah, kampus, sekolah, hingga pengelola kawasan perumahan, apartemen, perkantoran, area bisnis, pabrik, dan pergudangan.
Memasuki Agustus 2026, Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat bersama seluruh puskesmas di Kecamatan Cengkareng mulai melakukan peletakan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia pada titik penitipan yang dikelola oleh OTA terpilih di enam kelurahan. Proses implementasi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Maret 2027.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta berharap implementasi Wolbachia di Kecamatan Cengkareng dapat berjalan dengan baik melalui kolaborasi seluruh unsur wilayah. Dukungan masyarakat juga menjadi bagian penting, khususnya dengan tetap melakukan PSN secara rutin, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan PHBS. Melalui penerapan berbagai upaya secara terpadu dan berkelanjutan, termasuk teknologi Wolbachia, Dinkes DKI Jakarta optimistis pengendalian DBD dapat semakin diperkuat dan kasus DBD di wilayah Jakarta, khususnya Kecamatan Cengkareng, dapat terus ditekan. [AA]
