Menteri Kesehatan RI Tinjau Implementasi Smart Posyandu di Posyandu Flamboyan 5 Jakarta Pusat
Jakarta, 8 Oktober 2026 – Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menerima kunjungan Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin di Posyandu Flamboyan 5, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/10). Kunjungan dilakukan guna meninjau implementasi Smart Pos Pelayanan Terpadu (Smart Posyandu) yang dikembangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam kunjungan ini, Menkes Budi melihat secara langsung penerapan digitalisasi dalam pelayanan Posyandu, mulai dari proses pencatatan, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga penyampaian hasil pemantauan kepada orang tua. Smart Posyandu merupakan inovasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mentransformasi pelayanan Posyandu agar lebih cepat, akurat, terstandar, dan berbasis data. Inovasi ini dikembangkan untuk menyederhanakan proses administrasi dan pencatatan, sehingga kader posyandu dan petugas kesehatan dapat lebih fokus memberikan pelayanan serta edukasi kepada masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan, digitalisasi Posyandu menjadi bagian penting dalam memastikan data tumbuh kembang anak dapat tercatat, tersimpan dan dikelola dengan baik. Data tersebut selanjutnya dapat dianalisis sebagai dasar dalam menentukan intervensi kesehatan dan gizi.
“Kalau dilakukan secara manual, ibu-ibu kader dan petugas puskesmas akan sibuk melakukan pencatatan. Kami ingin ibu-ibu kader lebih banyak punya waktu untuk melakukan interaksi dengan masyarakat dan balita, sehingga proses edukasi berjalan dengan baik. Data-data penimbangan balita juga bisa kami simpan dan kami analisis sebagai dasar program,” jelas Ani.
Ani menyampaikan, Smart Posyandu dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu di Jakarta. Implementasinya dilakukan secara bertahap sejak 2025 dan kini telah diterapkan di seluruh Posyandu di DKI Jakarta.
“Smart Posyandu ini basisnya adalah Posyandu. Kami mengembangkan sebuah konsep dan program yang bisa melakukan digitalisasi terhadap kegiatan di Posyandu. Semua kegiatan di Posyandu akan masuk ke dalam sistem ini dan yang paling penting prosesnya menjadi lebih sederhana,” ujarnya.
Salah satu fitur yang dikembangkan adalah penyajian hasil pemantauan tumbuh kembang balita dalam bentuk grafik yang mudah dipahami oleh orang tua. Hasil pemantauan tersebut juga dapat dikirimkan melalui WhatsApp kepada orang tua, sehingga informasi mengenai kondisi dan perkembangan anak dapat diterima dengan lebih cepat.
“Ketika kita ingin memperbaiki status gizi balita, peranan orang tua sangat penting. Supaya orang tua memahami kondisi anaknya, mereka perlu mengetahui pentingnya menjaga kesehatan dan membawa anak secara rutin ke Posyandu untuk dilakukan monitoring,” kata Ani.
Pada kesempatan tersebut, Ani juga mengajak masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki balita, untuk memanfaatkan layanan Posyandu secara rutin. Masa balita merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang perlu dilakukan secara berkala.
“Masa balita, terutama sampai usia lima tahun, merupakan masa emas pertumbuhan anak. Karena itu, kita harus memastikan anak-anak Jakarta mendapatkan haknya untuk terus dimonitor tumbuh kembang dan kesehatannya. Salah satu layanan yang sudah disediakan pemerintah adalah Posyandu. Jadi saya mengajak, yuk bawa anak-anak kita semuanya ke Posyandu, jangan sampai bolos setiap bulan minimal harus ke posiandu,” ujarnya.
Sementara itu, Menkes RI Budi mengapresiasi implementasi digitalisasi dalam pelayanan Posyandu yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, penerapan digitalisasi ini dapat membantu meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus mengurangi proses pencatatan data antropometri anak secara manual.
“Ini pencapaian yang sangat bagus. Implementasi digitalisasi dari pengukuran tinggi badan dan berat badan bayi ini merupakan sesuatu yang sangat baik. Alat antropometri sebenarnya sudah memiliki spesifikasi yang dapat terkoneksi melalui Bluetooth, tetapi belum ada daerah yang dapat menghubungkannya secara digital,” ujar Budi.
Ia menilai, konektivitas alat pengukuran dengan sistem digital memungkinkan data hasil pengukuran dapat langsung masuk ke dalam sistem, sehingga petugas Puskesmas tidak perlu melakukan pencatatan atau memasukkan data secara manual. Menurutnya, implementasi Smart Posyandu di Jakarta, merupakan capaian yang baik dan dapat menjadi contoh untuk dikembangkan di daerah lain.
“Jadi seluruh petugas Puskesmas tidak perlu menulis secara manual karena data entry-nya langsung masuk ke sistem. Ini luar biasa. Nanti saya minta ini bisa menjadi contoh untuk daerah-daerah lain,” ujar Budi.
Melalui penerapan Smart Posyandu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong transformasi pelayanan kesehatan berbasis digital sekaligus memperkuat peran Posyandu sebagai bagian penting dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak di tingkat masyarakat. [AA/DN]
