Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Administrator

Sudah Melakukan Terapi Hemodialisa, Bagaimana Asupan Cairannya? 

Pada tubuh sehat, sejatinya asupan cairan yang dibutuhkan adalah dua liter. Namun, bagi penderita masalah ginjal, asupan cairan ini harus dibatasi. Gagal Ginjal kronis tentunya, jumlah air yang masuk ke tubuh, tidak seimbang dengan jumlah air yang keluar dalam bentuk urine. Sehingga dapat menyebabkan kelebihan cairan dalam tubuh ( bengkak, sesak nafas). 

“Sebenarnya kalau berbicara tentang asupan cairan, tergantung apakah masih memiliki sisa fungsi ginjal atau tidak. Maksudnya apakah penderitanya masih dapat mengeluarkan urine atau tidak. Ketika ia masih bisa buang urine, tentu masih bisa diijinkan minum sejumlah berapa cairan yang keluar melalui urine dan hasil penguapan tubuh berupa keringat yang bisa ditotal 600 cc. Jadi, penderita boleh minum sebanyak jumlah urine yang keluar ditambah 600cc hasil penguapan tubuh tadi,” ujar dr. Maria Irawati Simanjuntak, dari RS. Tarakan Jakarta 

Jika penderita tidak mampu mengeluarkan urine, berarti fungsi ginjal tidak tersedia. Sehingga penderita Gagal Ginjal kronis ini hanya bisa minum sejumlah keringat yang keluar atau berkisar 500-600cc per hari. Perlu diperhatikan pula, bahwa penderita Gagal Ginjal Kronis yang sudah sering melakukan Hemodialisa, jumlah urine lambat laun akan terus berkurang.  

Lantas, Bagi Penderita Gagal Ginjal Apakah Bisa Vaksinasi? 

Penderita Gagal Ginjal termasuk ke dalam kategori komorbid, karena umumnya Gagal Ginjal ini timbul karena riwayat hipertensi ataupun diabetes. Selama pandemi saat ini, virus COVID-19 rentan menyerang siapapun, baik mereka yang tidak atau memiliki komorbid. Sesuai anjuran pemerintah, maka seluruh rakyat di Indonesia wajib menjalani vaksinasi COVID-19.  

Mereka yang memiliki komorbid, tentu bisa menjalani vaksinasi, asalkan selama tekanan darah terkontrol, tidak mengalami sesak, tidak mengalami pembengkakan atau secara keseluruhan kesehatannya stabil, maka boleh di vaksin. Namun, untuk mengetahui ini semua, sebaiknya melakukan konsultasi ke tim medis terlebih dahulu. 

“Nah makanya, kalau mereka yang memiliki riwayat komorbid ini keluar rumah di saat pandemi, ditakutkan akan mudah terpapar virus COVID-19. Biasanya penderita Gagal Ginjal kan melakukan Hemodialisa ke rumah sakit dua kali dalam seminggu. Oleh karena itu, bagi yang menjalankan cuci darah, sebaiknya memilih pengobatan jenis Peritonial Dialysis. Yaitu metode cuci darah yang dilakukan lewat perut dan dapat dilakukan di rumah. Karena kalau melakukan hemodialisa 2 kali seminggu, bisa beresiko terpapar COVID-19, karena terlalu sering keluar rumah,”papar dr. Maria Irawati Simanjuntak. 

Dr. Maria juga berharap bahwa setiap masyarakat harus tahu kesehatan ginjalnya masing-masing. Untuk menjaga ginjal tetap dalam keadaan sehat, harus tahu tekanan darah karena itu merupakan tanda awal dari penyakit ginjal. Keduanya sangat berhubungan karena penyakit Gagal Ginjal itu bisa timbul karena tekanan darah yang tinggi atau sebaliknya, tekanan darah tinggi timbul karena Gagal Ginjal terjadi. 

“Jika kita memiliki riwayat hipertensi atau diabetes pun, kita harus tetap memeriksakan kondisi ginjal, minimal melalui urine. Ada baiknya juga selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mengontrol perkembangan kesehatan ginjal. Diet garam pun harus dilakukan bagi yang memiliki riwayat hipertensi atau gangguan ginjal lainnya. Setidaknya dalam satu hari, maksimal kebutuhan garam kurang dari satu sendok teh,” tutup dr. Maria Irawati Simanjuntak, SpPD,KGH,KIC, dari Dokter Konsultan Ginjal dan Hipertensi RSUD Tarakan Jakarta.[prm/hms]

foto: google images