Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Administrator

Musim Hujan, Waspadai Potensi Penyebaran DBD

Musim Penghujan kini mengguyur Ibukota dan wilayah lainnya di Indonesia. Selain mengganggu masyarakat dengan hadirnya banjir, salah satu penyakit yang menyebar yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD merupakan salah satu penyakit menular, yang penyebarannya melalui  vector/perantara yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Ternyata kondisi geografis dan iklim di Indonesia yaitu memiliki musim hujan dan kemarau, sesuai untuk perkembangbiakan nyamuk satu ini. Apalagi, di saat musim hujan seperti sekarang, banyak sekali ditemukan genangan-genangan air yang menjadi media nyamuk bertelur.

“Ketika nyamuk ini dewasa kemudian menggigit orang yang memiliki virus Dengue, maka virus itu bisa ditularkan kembali oleh nyamuk yang sama ketika menggigit orang lain. Satu nyamuk saja bisa menggigit banyak orang, bagaimana kalau nyamuk itu jumlahnya meningkat? Inilah yang patut diwaspadai karena bisa berakibat banyaknya yang terkena DBD,” ucap dr. Roosvita Nur Aini, Sub Koordinator Urusan Penyakit Menular Tular Vektor dan Zoonosis, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

 

Lho, Berarti Nyamuk Lain Bisa Menularkan Virus Dengue Juga Dong?

Tunggu dulu Healthies! Menurut penelitian yang disampaikan dr. Roosvita, bahwa virus Dengue ternyata hanya ditularkan (sebagai vector) oleh nyamuk Aedes Aegypti betina. Mengapa? Karena nyamuk menghisap darah untuk mematangkan telurnya, sedangkan makanan nyamuk bukan darah. Meskipun demikian kita juga harus waspada terhadap gigitan nyamuk lainnya. Sebenarnya yang perlu diperhatikan pula, virus Dengue bukan hanya muncul ketika musim penghujan, namun setiap waktu. Simpelnya adalah ketika ada genangan air, nyamuk akan bertelur disitu. Ketika metamorfosisnya usai, nyamuk akan menyerang dan mengigit manusia.

Nyamuk Aedes Aegypti ,Sumber: Bing Image

Saat ini di DKI Jakarta, kasus Demam Berdarah kembali meningkat. Penuturan dr. Roosvita, peningkatan ini sudah dimulai dari bulan Oktober 2021 hingga sekarang. Prediksi peningkatan kasus sampai 2 (dua ) bulan ke depan dapat dilihat dilaman www.dbd.bmkg.go.id yang merupakan kerjasama antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan BMKG. Pada laman tersebut juga menampilkan predikasi kelembaban udara (Rh) dimana kelembaban udara akan berpengaruh dengan banyaknya vektor nyamuk. Penjelasannya, jika kelembaban udara meningkat di suatu wilayah, maka potensi penyebaran DBD akan meningkat di wilayah tersebut karena nyamuknya bertambah banyak. Predikasi digunakan   sebagai antisipasi supaya tidak terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

 

Baca Juga : Angkak dan Sari Kurma Meningkatkan Trombosit, Benarkah?

 

Kapan Nyamuk Aedes Aegypti si Penyebab DBD ini ‘Beroperasi’?

Ketika rush hour atau jam sibuk seperti di jam 08.00 – 10.00, kemudian siang di jam 14.00 – 16.00. Ketika terkena gigitan, gejala akan muncul di hari ketiga setelah gigitan. Gejalanya meliputi; demam tinggi di hari 1-3, sakit kepala berat, mual, susah makan, ruam atau bintik merah dan lebih parahnya ialah pendarahan. 

“Di Faskes kita sudah ada pemeriksaan dini untuk meneliti apakah sudah ada virus Dengue di tubuh. Pemeriksaan ini dimulai dari hari 1-3 demam tinggi, dengan cara pengecekan darah. Pengecekan trombosit akan dilakukan hari keempat dan seterusnya,” lanjut dr. Roosvita Nur Aini.

Bagaimana gejala orang dengan Immunocompromised? Ternyata perbedaannya adalah hanya pada demam. Jika manusia normal akan merasakan demam tinggi, tapi bagi penderita Immunocompromised mereka akan mengalami demam biasa namun gejala lainnya seperti hilang nafsu makan, sakit kepala dan lain-lain sama. Oleh karena itu sebaiknya jika penderita Immunocompromised mengalami gejala DBD lainnya selain demam, segera memeriksakan diri ke Faskes terdekat.

 

Lalu, Apakah yang Pernah Terkena DBD, Bisa Terinfeksi Lagi?

Tentu bisa! Karena virus ini memiliki empat subtype, sehingga penderita DBD bisa terkena lagi.

“Bagi yang sudah pernah mengalami Demam Berdarah, maka antibodi awal sudah terbentuk. Namun, jika terkena kembali, maka gejala yang timbul akan lebih parah lagi, karena virus Dengue akan lebih kuat dari antibodi awal,”lanjut dr. Roosvita.

 

Fase Demam Berdarah

Menurut dr. Roosvita Nur Aini, penderita Demam Berdarah akan mengalami tiga fase seperti Fase Demam, Fase Kritis dan Fase Pemulihan. Yang paling patut diwaspadai penderitanya adalah di fase kritis, dimana penderitanya tidak mengalami demam, namun secara perlahan badan menuju tanda-tanda drop. Ketika penderita tersebut terlalu banyak aktivitas, cairan kurang, maka pembuluh darah akan mengecil (pecah pembuluh darah) sehingga tidak mampu mengalir ke titik-titik vital lainnya.

“Tanda sangat bahaya yang paling terasa adalah muntah terus menerus, ujung tangan mulai terasa dingin karena darah tidak mengalir sampai ke ujung jari dan terakhir shock akibat kurangnya cairan. Maka dari itu jika sudah mengalami gejala ini, segera dibawa ke faskes untuk diberikan suntikan cairan (infus),” lanjutnya.

 

Bisa Tidak Penderita Demam Berdarah Melakukan Perawatan di Rumah?

Jawabannya tergantung Healthies! Seperti tidak memiliki gejala hebat, masih bisa makan normal dan cairan yang banyak serta penderitanya orang dewasa. Trombosit juga tidak kurang dari 100.000, serta kekentalan darah tidak naik. Jika mengalami gejala hebat seperti di atas, segera menuju ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Lalu, Pencegahannya Bagaimana?

Untuk mencegah penyakit ini berada di sekitar lingkungan adalah melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M Plus yaitu Menutup tempat penampungan air, Menguras bak mandi, Mendaur ulang barang bekas/tak terpakai. Untuk plusnya adalah bagaimana agar kita tidak digigit nyamuk dengan melakukan hal seperti; memasang jaring-jaring anti nyamuk di setiap ventilasi rumah, gunakan kelambu, Jangan menggantung baju setelah beraktivitas dari luar, karena mengundang nyamuk bersarang atau menyebarkan penyakit dari luar rumah. Selain itu memelihara tanaman pengusir nyamuk seperti Lavender, menggunakan obat pembasmi nyamuk di rumah dan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk (Cupang)

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), kini menyerukan partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan PSN 3M Plus melalui G1R1J (Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik) atau biasa disebut Jumantik mandiri (self Jumantik). Jumantik merupakan singkatan dari Juru Pemantau Jentik, yang diharapkan seluruh tatanan masyarakat membentuk kewaspadaan terhadap peningkatan nyamuk DBD. Kemudian untuk yang masih menggunakan penampungan air, masyarakat juga diperbolehkan untuk mendatangi Puskesmas setempat atau kader Jumantik untuk meminta Larvasida secara gratis dengan penaburannya harus sesuai ketentuan.

Jika sudah ada kasus terkena Demam Berdarah, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk melaporkan ke RT/RW setempat untuk diteruskan ke Puskesmas terdekat. Hal ini bertujuan untuk dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) oleh Tenaga Kesehatan dengan mengecek apakah wilayah tersebut merupakan sumber penularan dan untuk memutus rantai penularan selanjutnya. Jika hasil PE positif, maka akan dilakukan pemberantasan nyamuk dewasa dengan cara melakukan fogging fokus sebanyak 2 siklus dengan interval waktu 1 minggu, dan disertai kegiatan PSN dan Penyuluhan kemasyarakat sekitar.

Stop DBD, lakukan PSN 3M Plus minimal seminggu sekali di rumah kita, sekolah kita, kantor kita,” tutup dr. Roosvita Nur Aini.[prm/hms]

 

Foto: Bing Images dan Koordinator Urusan Penyakit Menular Tular Vektor dan Zoonosis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta