Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Administrator

Ayo Berantas TBC Bersama-sama

TB/TBC atau Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. TBC tidak hanya dapat menyerang paru-paru, tetapi organ vital lainnya, seperti selaput otak, usus, kelenjar getah bening, dan tulang, dll. Berdasarkan paparan dari Direktur P2PM, Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes, dalam pembahasan “Investasi Untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa” setiap jam ada 93.000 orang meninggal setiap tahun akibat Tuberkulosis. Jika dihitung lebih lanjut, terdapat 11 orang meninggal setiap jamnya akibat penyakit ini.

 

Proses Penularan

TBC dapat menular pada waktu batuk atau bersin. Pasien yang batuk/bersin menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet). Infeksi akan terjadi apabila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan dahak yang infeksius. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak yang mengandung kuman sebanyak 0-3.500 Mycobacterium Tuberculosis. Sedangkan jika pasien TB bersin, dapat mengeluarkan sebanyak 4.500 – 1.000.000 Mycobacterium Tuberculosis

 

Sebenarnya Ada Berapa Jenis TBC? 

Tuberkulosis berdasarkan lokasi anatomi penyakit terbagi menjadi dua, yaitu Tuberkulosis Paru dan Tuberkulosis Ekstra Paru. TBC Ekstra Paru terjadi pada organ selain paru, seperti saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak, tulang, dll. Diagnosis TB Ekstra Paru dapat ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis.  

 

Gejala TBC

Gejala utama pasien TBC paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik dan demam meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala TB yang khas, sehingga gejala batuk tidak harus selalu selama 2 minggu atau lebih. 

Gejala-gejala tersebut di atas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti Bronkiektasis, Bronkitis Kronis, Asma, Kanker Paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Fasyankes dengan gejala di atas, dianggap sebagai seorang terduga pasien TB. Dengan melakukan pemeriksaan penunjang Tes Cepat Molekuler (TCM), bakteri TBC dapat segera terdeteksi. 

 

Diagnosa TBC 

Tes Cepat Molekuler (TCM) merupakan alat diagnosis utama yang digunakan untuk penegakan diagnosis Tuberkulosis, baik TBC paru maupun TBC Ekstra Paru. Pemeriksaan TCM dilakukan dari spesimen dahak. Pemeriksaan penunjang lain digunakan untuk mendukung penegakan diagnosis.  

 

Pengobatan TBC 

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobatan TBC. OAT untuk pengobatan TBC disediakan gratis oleh pemerintah. Kunci keberhasilan pengobatan TBC adalah kepatuhan dalam menjalani pengobatan secara teratur selama minimal enam bulan dan rutin meminum obat sampai dinyatakan sembuh.  Apabila sudah menjadi terduga TBC, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Untuk hasil positif TBC, akan langsung inisiasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Untuk hasil negatif TBC, diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat pasien TBC, dan bagi yang bukan kontak erat, diberikan KIE PHBS.

 

Dampak Tidak Menjalani Pengobatan TBC Secara Teratur

Jika pengobatan TBC tidak dilakukan secara teratur, maka penyakit TBC ini akan menjadi Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO), kondisi di mana bakteri TBC menjadi lebih kebal, sehingga proses pengobatan juga menjadi lebih lama. 

 

Kapan Dinyatakan Sembuh?

Pasien TBC dinyatakan sembuh apabila telah menyelesaikan pengobatan sesuai standar dan hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan telah negatif. 

 

Pencegahan 

Untuk mencegah TBC datang, sebaiknya selalu membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, membuat ruangan dengan ventilasi yang baik, makan makanan bergizi agar imun tubuh tetap kuat dan tentunya tidak merokok. Teruntuk untuk orang tua yang baru mempunyai bayi, vaksinasi BCG sangat mutlak dibutuhkan bagi bayi yang baru lahir.

Untuk yang sudah terdampak TBC, tentunya jangan berhenti untuk meningkatkan daya tahan tubuh melalui perbaikan kualitas nutrisi. Selain itu, perlu pula membudayakan perilaku etika berbatuk dan cara membuang dahak bagi pasien TB. Menggunakan masker dengan benar bagi pasien TBC untuk mencegah penularan. 

Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi Kontak Erat pasien TBC dan orang berisiko lainnya juga wajib dilakukan untuk mengurangi bakteri sumber penularan dan mencegah tahap penularan selanjutnya.[prm/hms]

 

Sumber: Sub Koordinasi Penyakit Menular & Tular Vektor Zoonosis (PMTVZ), Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta