Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : Administrator

JANGAN SAMPAI KEHILANGAN INDERA PENDENGARAN

Telinga merupakan panca indera yang berfungsi sebagai penerima suara atau bunyi serta berfungsi sebagai penyeimbang tubuh. Oleh sebab itu, kesehatan telinga/pendengaran harus dirawat agar fungsinya tetap terjaga. Baik Puskesmas hingga Rumah Sakit Daerah pun sudah memiliki fasilitas pemeriksaan kesehatan telinga yang mumpuni. Sehingga masalah gangguan pendengaran pun bisa segera diatasi oleh tenaga kesehatan yang sudah berkompeten. Namun ternyata masyarakat masih enggan untuk melakukan pemeriksaan karena belum muncul keluhan pada indera pendengaran (telinga) seperti sering berdenging (tinnitus), nyeri pada bagian telinga dalam, gangguan keseimbangan, dll. Padahal pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengetahui jenis gangguan yang dialami penderitanya. Perlu diketahui ada tiga sebab gangguan pendengaran terjadi pada manusia seperti;

 

- Gangguan Konduktif, ketika pendengaran terganggu akibat masalah pada telinga yang bisa disebabkan penumpukan kotoran, infeksi telinga, penumpukan cairan akibat pilek, adanya benda asing yang masuk ke telinga, kelainan bentuk telinga dan bahkan tumor.

- Gangguan Sensorineural, terjadi akibat kerusakan bagian dalam dan syaraf penghantar bunyi menuju otak. Hal ini bisa disebabkan karena penyakit seperti meniere, penggunaan suatu obat yang menyebabkan efek samping, kondisi genetik, hantaman di kepala dan penerimaan suara keras ke telinga dalam waktu yang cukup lama

- Gangguan Kombinasi dari Konduktif dan Sensorineural yang diakibatkan kerusakan di bagian telinga luar, tengah, dalam serta syaraf menuju otak.

 

Selain itu, faktor resiko pun turut menyebabkan gangguan pendengaran sedari bayi, berdasarkan paparan American Joint Commitee on Infant Hearing Year 2019, yaitu sebagai berikut;

- Riwayat keturunan yang memiliki gangguan pendengaran.

- Riwayat infeksi TORCHS (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, Herpes, Sifilis) ketika kehamilan berlangsung.

- Kelainan bentuk kepala hingga daun telinga dan liang telinga.

- Berat badan bayi rendah yaitu kurang dari 1.500 gram.

- Penggunaan obat ototoksik pada ibu hamil.

- Meningitis Bakterialis.

- Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar darah

- Penggunaan ventilasi mekanik selama 5 hari atau lebih

- Kelainan tertentu akibat sindrom penyerta.

 

Gejala

Secara ilmiah, gelombang suara masuk lewat telinga luar dan membuat getaran di gendang telinga, kemudian melipatgandakan getaran ke telinga dalam dan disalurkan menuju Koklea. Getaran tersebut berubah menjadi sinyal listrik yang dikirimkan menuju otak menjadi sebuah suara yang kita dengar. Sehingga, ketika terjadi gangguan dalam proses penyampaian gelombang suara tersebut, maka itu bisa dikategorikan sebagai gangguan pendengaran. Gejala yang timbul pun bervariatif seperti:

- Telinga berdenging

- Selalu menyetel suara TV dan musik terlalu keras

- Kesulitan mendengar perkataan

- Butuh konsentrassi tinggi untuk mendengar apa yang dikatakan orang lain

 

Pada anak-anak pun gejalanya berbeda seperti;

- Tidak menoleh ke arah sumber suara

- Tidak kaget ketika mendengar suara nyaring

- Tidak bisa menyebut kata di umur 15 bulan

- Tidak mendengar saat dipanggil

 

CARA MENDETEKSI

Cara mengetahui seseorang dikatakan memiliki gangguan pendengaran yaitu melalui skrining atau deteksi dini gangguan pendengaran sesuai kategori usianya. Untuk kelompok usia bayi dan balita menggunakan tes daya dengar. Sedangkan kelompok usia 15 tahun ke atas yaitu dengan tes suara dan tes berbisik modifikasi.

 

Pengobatan

Untuk mencegah semakin buruknya masalah pendengaran maka dibutuhkan proses pengobatan. Metode pengobatan pun bermacam-macam, tergantung penyebab dari gangguan pendengaran, seperti;

- Membersihkan kotoran telinga, jangan mengorek telinga sendiri, karena kegiatan mengorek telinga dapat membuat serumen masuk kembali ke dalam liang telinga dan ada       kemungkinan terjadinya infeksi pada liang telinga apabila alat yang digunakan saat mengorek tidak steril. Untuk membersihkan telinga, Anda bisa mengunjungi Faskes terdekat untuk konsultasi.

- Untuk gangguan yang sudah berat, bisa melakukan tindakan operasi seperti implan koklea untuk stimulasi syaraf pendengaran. Tindakan operasi lainnya dapat dilakukan dengan bergantung diagnosa oleh dokter ahli

- Menggunakan alat bantu dengar untuk memproses penghantaran suara.

 

Pencegahan

Gangguan pendengaran membuat aktivitas terhambat dan merembet ke gangguan lainnya seperti kemampuan komunikasi, psikologis hingga fisiologis. Untuk itu perlu dilakukan langkah pencegahan agar tidak mengalami gangguan ini dengan melakukan hal berikut:

 

- Vaksin MR (Measles Rubella) untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk mencegah tuli kongenital.

- Penggunaan alat pelindung telinga bagi pekerja atau ketika beraktivitas di lingkungan kerja yang bising.

- Membersihkan liang telinga dengan bantuan tenaga terlatih dan jangan mengorek telinga sendiri.

- Melakukan deteksi dini gangguan pendengaran secara berkala

 

Dampak Dari Gangguan Pendengaran

Hal yang ditakutkan ketika mengalami gangguan pendengaran adalah terjadinya masalah fisiologis berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi, sakit kepala, mual dan sesak nafas. Selain itu, gangguan psikologis juga terjadi yang menyebabkan rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, dan susah tidur. Bahkan penyakit psikosomatik bisa timbul seperti gastritis, jantung, stress, dan kelelahan.

Kemudian penderita gangguan pendengaran akan mengalami pengucilan sosial karena ketika berkomunikasi tidak bisa mendengar lawan bicara dengan baik dan harus selalu berteriak.

Berdasarkan pencatatan dan pelaporan SI PTM Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2021, terdapat 38 kasus Gangguan Pendengaran Akibat Bising (GPAB), 703 kasus OMSK/Congek, 9 kasus Presbikusis, 2.442 kasus Serumen Prop, dan 53 kasus Tuli Kongenital. Hal ini yang menjadi patokan bagi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk terus melakukan pelayanan kesehatan telinga dan pendengaran kepada seluruh sasaran mulai dari usia bayi baru lahir hingga lanjut usia. Layanan yang dilakukan mencakup promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. 

Di Hari Pendengaran Sedunia/World Hearing Day 2022 dengan tema “To Hear For Life, Listen with Care” atau “Jaga Pendengaran Kita KINI dan NANTI, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pun melakukan serangkaian kegiatan yang tentunya untuk meningkatkan angka kesehatan telinga khususnya di DKI Jakarta. Promosi Kesehatan terkait kesehatan telinga di gelar di Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah. Selain itu Dinas Kesehatan juga berpartisipasi pada kegiatan Adcovacy Seminar World Hearing Day 2022 – PERHATI KL pada tgl 4 Maret 2022 lalu.

Di Hari Pendengaran Sedunia ini pula, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta berharap agar komitmen Global Sound Hearing 2030 tetap menjadi perhatian bersama dari semua pihak baik dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan media, serta masyarakat memiliki kesadaran dan pengetahuan untuk menjaga kesehatan pendengaran demi tetap produktif dalam kehidupan sehari-hari.[prm/timBX]

Sumber: Sub Koordinasi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan Napza, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

foto: Google Images